RESUME BUKU BUPATI DI PRIANGAN

Standar

IDENTITAS BUKU

 

Judul               : Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda

Penulis             : A. Sobana Hardjasaputra, H. D. Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi,

Wim van Zanten, dan Undang A. Darsa.

Penerbit           : Yayasan Pusat Studi Sunda

Tahun Terbit    : Desember 2004

Kota Tefirbit   : Bandung

Editor              : Ajip Rosidi

Warna Cover   : Coklat muda dengan coklat kekuning-kuningan di tengahnya

Gambar Cover  : gambar baju daerah dan payung

Ukuran            :

Tebal               : 190 halaman

 

Buku yang merupakan kumpulan dari hasil penelitian – penelitian ini mempunyai cover berwarna coklat muda, dan adapun gambar cover buku ini yaitu baju kebesaran yang digunakan para bupati di Priangan pada zaman itu serta songsonng ( payung kebesaran ) yang digunakan untuk acara – acara resmi pada zaman itu, jika dilihat dari pembahasannya buku ini terdiri dari enam bab, meskipun hanya 6 bab buku ini sangat cukup untuk memahami keadaan bupati di Priangan pada zaman kolonialime disertai dengan beberapa kajian lainnya mengenai budaya Sunda yaitu sebagai berikut:

Bab I   : Bupati di Priangan

Bab II  : Ngabukbak Lakbok

Bab III : Kautamaan Istri

Bab IV :

Bab V  :

Bab VI            :

 

 

BAB II

RESUME

Buku Bupati di Priangan dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda ini terdiri dari enam bab dengan inti sarinya sebagai berikut:

Bab I

BUPATI DI PRIANGAN

Bupati di Pulau Jawa dan khususnya di Priangan mempunyai kedudukan dan peranan penting serta unik dalam penyesuaian budaya sendiri terhadap modernisasi yang ditimbulkan oleh pemerintah kolonial.

Dibawah kekuasaan Mataram, bupati di Priangan merupakan Elite penguasa yang memiliki otoritas penuh untuk memerintah di daerah kekuasaannya. Hal ini disebabkan bupati – bupati di Priangan sejajar dengan bupati – bupati di daerah mancanegara yang memiliki kekuasaan besar. Ada dua faktor dasar yang menyebabkan bupati di daerah mancanegara memiliki kekuasaan besar. Pertama, karena struktur pemerintahan Mataram merupakan garis hierarkis, terdiri atas unit – unit kekuasaan yang terpisah – pisah. Kedua, besarnya kekuasaan kepala daerah di mancanegara disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu letak daerah mancanegara jauh dari pusat kekuasaan dan belum ada sarana transportasi dan komunikasiyang memadai.  Kedudukan bupati sebagai penguasa daerah, digunakan oleh pemerintah kolonial sebagai perantara pemerintah dengan masyarakat pribumi dalam pelaksanaan eksploitasinya.

Kedudukan bupati di Priangan cenderung menurun pada bagian akhir kekuasaan Kompeni. Adapun awal dari kekuasaan kompeni di Priangan ini diawali setelah meninggalnya Sultan Agung meninggal (1645) yang menyebabkan Mataram berangsur – angsur menjadi lemah akibat kemelut yang terjadi di dalam kerajaan dan serangan dari luar. Wilayah priangan jatuh ketangan Kopeni dalam dua tahap akibat perjanjian Mataram – Kompeni tahun 1677 dan 1705. Pada tahap pertama kompeni memperoleh wilayah Priangan Barat dan Tengah. Pada tahap kedua Kompeni menguasai wilayah Priangan Timur dan Cirebon. Pada mulanya Mataram menyerahkan daerah Priangan kepada Kompeni hanya sebagai pinjaman. Tetapi karena Mataram bertambah lemah, maka penguasa kerajaan itu makin sering meminta bantuanke Kompeni. Akibatnya, Kompeni berkuasa penuh atas wilayah Mataram termasuk Priangan. Akan tetapi, penurunan itu hanya terjadi pada kedudukan bupati sebagai kepala daerah.

Pada abad ke-19, kedudukan bupati mengalami masa turun- naik, diawali oleh perubahan drastis, dari bupati sebagais kepala daerah menjadi bupati sebagai aparat pemerintah kolonial ( pemerintah Hindia – Belanda). Perubahan itu terjadi akibat kebijakan pemerintah kolonial yang berupaya untuk menjalankan sistem pemerintahan langsung.

Upaya pemerintah kolonial ternyata gagal akibat kuatnya kedudukan dan peranan bupati sebagai pemimpin tradisional serta ikatan feodal antara bupati dengan rakyat. Namun, struktur pemerintahan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial mengakibatkan kekuasaan bupati menjadi berkurang. Kedudukan dan kekuasaan bupati sebagai kepala daerah merosot akibat proses birokrasi pemerintah kolonial.

Sistem pemerintahan tak langsung yang terpaksa dijalankan oleh pemerintahan kolonial, menyebabkan bupati berperan sebagai perantara pihak kolonial dengan lembaga tradisional ( komunitas desa ). Dalam hal ini bupati harus memainkan peran ganda. Selaku pemimpin tradisional, bupati harus bersikap dan bertindak dalam ikatan feodal tradisional. Sebagai aparat pemerintah kolonial bupati harus menjalankan fungsi dan peranan sesuai dengan status tersebut. Disinilah letak keunikan posisi bupati pada masa kekuasaan kolonial, khususnya pada abad ke-19.

Adanya fungsi ganda bupati menyebabkan para bupati memegang peranan penting, baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi dan sosial budaya. Dalam bidanng politik, bupati berperan sebagai basis kekuasaan pemerintah kolonial. Di bidang ekonomi, bupati di priangan memegang peranan penting dalam mekanisme produksi hasil bumi, terutama kopi, karena pemerintah kolonial mempertahankan Preangerstelsel ( Sistem Priangan ). Dalam bidang sosial budaya, bupati berperan sebagai innovator dalam proses akulturasi kebudayaan antara budaya tradisional Sunda di satu pihak dengan budaya Barat di pihak lain.

Dipertahankannya Preangerstelsel, pada satu sisi menyebabkan kedudukan bupati di Priangan berbeda dengan bupati di daerah lain. Pada sisi lain, berlangsungnya Preangerstelsel menyebakan bupati dapat mempertahankan prestise, gaya hidup, dan pengaruh terhadap rakyat sebagai bentuk otoritas yang sah, paling tidak otoritas sebagai pemimpin tradisional.

Meskipun kedudukan formal bupati pada abad ke-18 secara politis mengalami penurunan, tetapi peranan bupati bagi Kompeni tetap penting. Bupati dengan charisma pribadinya merupakan basis kekuatan untuk menggerakkan rakyat, sedangkan Kompeni tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat, karena ruang lingkkup kekuasaanya hanya sampai bupati. Kedudukan bupati pada abad ke – 19 juga mengalami masa turun – naik, hal ini sejalan dengan silih bergantinya pemimpin pemerintahan dengan politik yang berbeda – beda, tetapi prestise dan pengaruh bupati terhadap rakyat tidak berubah, bahkan bertambah besar. Simbol – simbol berupa gelar kepangkatan dan atribut – atribut kebesaran lain yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada para bupati, seara politis justru menambah prestise dan memperbesar wibawa atau pengaruh bupati terhadap rakyat. Pemberian simbol – simbol kebesaran itu berarti pemerintahan kolonial justru memperkuat feodalisme di kalangan bupati.

Sesungguhnya kebijakan pemerintah kolonial itu memiliki dua tujuan. Pertama, untuk memperbesar loyalitas para bupati kepada pemerintah. Kedua, agar bupati berperan lebih aktif dalam prases produksi hasil tanaman wajib. Dalam prases itu, bupati menduduki posisi dan memegang peranan penting sebagai “ kunci” keberhasilan eksploitasi kolonial. Bagi bupati, hal itu justru menyebabkan mereka mampu memelihara dan mempertahankan konsensus masyarakat akan status bupati. Dalam pandangan masyarakat tradisional, kedudukan bupati bersifat “ sacral “. Pandangan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa jabatan bupati berlangsung secara turun – menurun, bahkan berupaya untuk menghapuskan jabatan tersebut.

Hal itu menunjukkan keunikan posisi bupati dan peranan pentingnnya dalam hubungan kekkuasaan dan kepentingan pemerintah colonial- bupati – rakyat. Dalam hubungan itu terjadi ketergantungan satu pihak pada pihak lain. Berhasil tidaknya kehendak pemerintah kolonial sanngat bergantung pada bupati. Sebaliknya, kewajiban dan kehidupan bupati banyak bergantung pada kebijakan pemerintahan colonial. Pada sisi lain, berhasil tidaknya bupati merealisasikan kehendak pemerintahan kolonial bergantung pada kepatuhan rakyat. Sebaliknya, kehidupan rakyat banyak bergantung pada kepemimpinan bupati.

Dalam hubungan ketiga pihak itulah makna pentingnya kedudukan (posisi) dan peranan bupati di Priangan pada masa kolonial, khususnya sampai dengan akhir abad ke-19, baik bagi pemerintah kolonial maupun bagi masyarakat tradisional. Pada dasarnya, hal itu pula yang menyebabkan pemerintah kolonial tidak kuasa mencabut kedudukan bupati sebagai kepala daerah, apalagi sebagai pemimpin tradisional yang kharismatis.

Hal – hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam kedudukan bupati, baik pada zaman kekuasaan Kompeni maupun pada zaman pemerintah Hindia Belanda, hanya mengangkut kedudukan bupati sebagai kepala daerah. Kedudukan bupati sebagai pemimpin tradisioanal tetap kuat karena berakar pada struktur sosial. Sebagai pemimpin tradisional bupati menduduki status tertinggi dalam struktur sosial tradisional. Kedudukan itu diperkuat oleh ikatan feodal antara bupati dengan rakyat yang melembaga menjadi tradisi, bahkan diperkuat lagi oleh kebijakan tertentu pemerintah colonial. Faktor – faktor tersebut menyebabkan jabatan bupati secara turun – temurun terus berlangsung paling tidak sampai dengan akhir abad ke- 19.

Kinerja para bupati juga menunjukkan bahwa bupati Priangan pada umumnya selain sebagai aparat pemerintah colonial, mereka juga tetap melaksanakan fungsi sebagai pelindung rakyat. Contohnnya dalam memajukan bidang pendidikan di Priangan, Bupati Sumedang Pangeran Suriakusumah Adinata (1836 – 1882) membangun sebuah sekolah. Beliau di kenal sebagai pelopor pendiri sekolah di Priangan. Bahkan ada sekolah yang dibangun atas  biaya sendiri, yang salah satu gurunya adalah bangsa Belanda (G. Warnaar). Bupati Bandung juga Raden Adipati Wiranatakusumah (1846 – 1874) berhasil meningkatkan produksi kopi, memajukan pertanian dan pembangunan daerah. Begitu juga dengan penggantinya Raden Adipati Kusumadilaga (1874 – 1893) berhasil memajukan ekonomi rakyat melalui koperasi. Bupati Limbangan (Garut), Raden Adipati Wiratanudatar (1871 – 1915) memajukan rakyatnya dalam urusan perdagangan dan bidang pendidikan.keberhasilan para bupati tersebut menunjukkan bahwa sekalipun mereka menjadi objek kekuasaan colonial tetapi mereka tetap memiliki kekuasaan untuk menggerakkan rakyat sebagai objek kekuasaan bupati. Jadi dapat dikatakan bahwa anggapan yang menyatakan bahwa bupati zaman kolonial adalah antek kolonial semata – mata dan pemeras rakyat, adalah anggapan atau generalisasi yang keliru, karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.

 

Bab III

KAUTAMAAN ISTERI

Konsep Pendidikan Raden Dewi Sartika

Tentang Dewi Sartika

Karena Dewi Sartika dan adanya kongres perempuan di Solo maka bulan Desember di tetapkan menjadi hari ibu, Dewi Sartika adalah anak bangsawan, sempat sekolah di kelas satu sebentar. Raden Sartika-pun mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak perempuan yang dibantu pejabat-pejabat pribumi dan colonial.

Yang bernama “sakola isteri”, dan sempat berganti nama menjadi “kautamaan isteri”. Atas jasanya R.Dewi Sartika ditetapkan menjadi pahlawan wanita. Sekolahnyapun di bangun bukan hanya ditatar sunda saja melainkan diluar tatar sunda.

R.Dewi sartika menulis 2 buku, buku yang pertama berbahasa sunda yang berjudul “buku kautamaan isteri (1912)” dan yang kedua berbahasa belanda yang berjudul “de inlandsche vrouw (wanita bumiputera ‘1914’)”.

Pengantar Buku “Kautamaan Isteri”

Buku kautamaan isteri membahas apasaja yang menjadi keutamaan bagi wanita?, hal itu bisa macam-macam, terutama tergantung kepada:

  1. Kelompok sosialnya
  2. Adat istiadat dan kebiasaannya
  3. Pendidikannya.

Di pribumi (bangsa Indonesia), yang tergolong wanita utama itu hanya sebagian saja, itupun dari kalangan menak dan orang kaya yang punya kemampuan untuk mengejar keutamaan atau kebahagiaan cukup besar.

Namun yang terjadi pada rakyat kecil, mereka itu tidak tau apa-apa tentang tata cara wanita yang utama, kalaupun tahu hanya dikira-kira saja, rakyat yang tinggal di dekat kota sering meniru yang baik dari kalangan menak, dan itu berarti para rakyat kecilpun ingin maju, namun beda dalam mendapatkan rezeki.

Menurut orang tua, jika diperhatikan para menak itu mempunyai asal-usul atau dasar tujuh macam yang oleh pengarang berbahasa melayu disebut bangsawan, hartawan, budiman, setiawan, gunawan, dermawan, dan sastrawan.

Melihat dari tulisannya, Raden Dewi Sartika mempunyai harapan, jika kaum wanita kalangan menak bersatu untuk memajukan rakyat kecil, tentu lambat laun penduduk pribumi akan maju, maju pengetahuan, kecakapan, dan minat kerja mereka, tingkah laku dan tatacara hidup merekapun baik, singkatnya hidup mereka selamat.

Cara untuk memajukan rakyat yaitu harus ada tempatnya atau sekolahnya. Yang dimaksud dengan pengajaran ialah pengetahuan atau alat untuk membereskan, memperbaiki dan memajukan segala macam masalah. Seperti kayu yang kasar yang dapat diperhalus oleh sugu, tanaman pirang harus dipupuk, yang bodoh harus diberi pelajaran, oleh karenanya pendidikan itu makin sempurna makin baik hasilnya.

Adapun sekolah yang pertama kali didirikan bagi anak perempuan pribumi ialah di bandung, lamanya sudah 7 tahun. Lama kemudian ada lagi sekolah wanita di pulau jawa, yaitu dikarang anyar dan bogor. Menurut berita berdiri pula sekolah wanita di serang dan ciamis.

Pada ulang tahun ke-7 sekolah tersebut (jubilieum). Segala hasil kerajinan dan keterampilan anak-anak sekolah wanita dipamerkan kepada hadirin. Banyak pembesar dan menak beserta isteri-isteri mereka yang menghadiri perayaan itu, begitu pula banyak rakyat dari pedesaan yang datang ketempat itu sehingga banyak yang pulang lagi karena kehabisan tempat, hal itu menjadi ciri bahwa mereka semua menyetujui kemajuan anak sekolah wanita itu. Raden Dewi Sartika mengharapkan dari buku ini, bahwa buku ini bisa menjadi motivasi bagi para menak untuk memajukan kaum wanita.

Kanjeng Tuan Inspektur Sekolah C.Den Hamer orang yang pertama kalinya mendirikan sekolah bagi anak-anak wanita pribumi (bangsa Indonesia) di Bandung. Dan Dewi Sartika menjadi guru atas persetujuan Kanjeng Bupati Bandung Raden Adipati Martanagara.

Adapun usaha yang dilaksanakan untuk mendidik anak-anak pribumi tidak ada lagi kecuali 2 macam, yaitu menasehati dan memberi contoh. Seperti ungkapan bahasa belanda: “leeringen wekken, voorbeelden trekken”, artinya bahwa nasehat itu menumbuhkan niat, sedangkan contoh menimbulkan keinginan.

Nasehat dan contoh yang sedang dilaksanakan oleh penulis, laksana perahu kecilyang dinaiki oleh anak-anak perempuan (murid Raden Dewi Sartika) akan berlayar ke negara kemajuan, mengarungi samudera luas yang berombak besar, tiba-tiba datang kapal besar dan kokoh yang membimbing dan menunjukan jalan ke arah negara kemajuan.

Yang di maksud kapal besar itu adalah bahwa sekarang ini di Bandung berdiri organisasi yang diatur oleh Tuan Inspektur Sekolah J.C.J.Van Bemmel. Tujuannya ialah akan memajukan anak-anak perempuan. Oleh karena itu, organisasi tersebut dinamai oleh Kanjeng Bupati  Bandung (R.A.A.Martanagara) “kautamaan isteri’.

Namun masyarakat menganggap sekolah tidak penting karena mereka belum mengetahui benar gunanya sekolah. Disangkanya disekolah itu hanya diajarkan menulis, membaca dan berhitung. Selain dari pelajaran pokok tersebut, banyak lagi mata pelajaran yang perlu bagi keutamaan hidup manusia.

Sekolah disebut “de bron vat het leven(modal hidup)”, oleh Kanjeng Tuan Inspektur. Jelasnya, sekolah itu modal hidup, sebab selain pelajaran pokok, anak itu diberi pelajaran pokok, anak-anak itu diberi pelajaran lain seperti: kebersihan, tatakrama, berbicara, disiplin dalam pemakaian waktu, taat, gembira, baik hati, hemat dan berfikir atau memilih.

Dengan berjalannya waktu di sekolah wanita bandung ditambah 3 macam pelajaran, yaitu keterampilan wanita, rumah tangga dan masak. Sifat anak berdasarkan pula atas pergaulan dan pendidikannya misalnya bergaul dengan kalangan menak tentu akan belajar bertatakrama seperti kalangan menak dan bisa pula menjadi menak. Tetapi sebaliknya, walaupun anak menak jika tidak dididik, tidak disekolahkan, pribadinya tidak akan dapat menjadi menak.

Jika bangsa kita ingin bertambah maju maka kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitub kepada anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan.

 

SUMBANGSIH RADEN DEWI SARTIKA

Kepala Sekolah Puteri Di Bandung

Wanita Bumiputera

Di samping berpendidikan, wanita itu harus terpelajar pula. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh terhadap moral wanita. Pengetahuan demikian diperoleh hanya di sekolah. Rencana pengajaran, proses belajar dan metode pengajaran seluruhnya terserah kepada kebijaksanaan dan kemampuan orang tua, padahal mereka tidak mempelajari secara khusus hal-hal tersebut.

Faktor yang besar pengaruhnya yaitu terdapat kecenderungan bahwa kaum tua tidak dapat dengan rela melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama. Jelas mereka tidak pernah bersekolah, namun kaum ibu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mereka sungguh hidup berbahagia dengan suami atau ayah dari puteri mereka selama puluhan tahun. Pendidikan sekolah membangkitkan sikap bebas pada sang anak. Justru sikap bebas itulah yang mereka khawatirkan, karena mereka takut bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk berbuat yang tidak baik. Juga, para ayah beranggapan demikian.

Ada satu hal lagi yang menarik perhatian. Kaum kuna itu beranggapan bahwa dengan bersekolah rasa  susila anak perempuan justru akan mengalami kemunduran. Karena itu mereka lebih suka meniru kebiasaan orang Arab yang dengan gampang memingit anak mereka. Mereka berbuat demikian, karena menurut pengetahuan dan pendapat mereka, itulah cara yang paling baik untuk meningkatkan moralitas anak perempuan mereka ke taraf yang lebih tinggi. Merupakan tugas yang sangat berat untuk mendorong orang-orang tua ke arah pikiran lain yang lebih baik.

Meskipun orang seringkali memperlakukan kaum wanita sebagai mainan yang ditakdirkan untuk menyerah kepada kehendak sewenang-wenang. Mereka beranggapan bahwa lebih baik membiarkan kaum wanita tetap bodoh agar mereka di kemudian hari tidak akan bersikap terlalu berani terhadap suaminya. Juga ada orang-orang yang berpendapat bahwa anak disekolah hanya dididik secara jasmaniah, sedangkan budi pekertinya hampir diabaikan. Semuanya ini merupakan hambatan terhadap gerakan memajukan kaum wanita dan akan dapat membuat banyak orang berputus asa.

 

KONSEP PENDIDIKAN RADEN DEWI SARTIKA

Endang Saifuddin Anshari,M.A. dalam tulisannya pada Bulletin Masjid Salman ITB awal tahun 1980-an menyatakan bahwa keunggulan R.Dewi Sartika dibandingkan dengan R.A.Kartini dalam rangka upaya memajukan kaum wanita Indonesia adalah bahwa R.Dewi Sartika telah mencapai tingkat yang konkrit dalam bentuk terwujudnya lembaga pendidikan yang dinamai sakola isteri (sekolah wanita), sedangkan R.A.Kartini baru dalam tingkat pemikiran dan keinginan. Sementara itu, seorang sejarawan senior di Bandung pernah mengatakan bahwa kelemahan R.Dewi Sartika terletak pada belum adanya konsep pendidikan yang mendasari lembaga pendidikan yang didirikannnya.

Edi S. Ekadjati berhasil menemukan dua karya tulis dewi sartika yang justru keseluruhan isinya dapat dipandang sebagai konsep pendidikan yang menjadi dasar pemikiran dan pedoman kerja lembaga pendidikan khusus anak-anak perempuan yang didirikan dan dipimpinnya.

Pendekatan Lingkungan

Dalam rangka menyusun konsep pendidikan bagi kaum wanita, Dewi Sartika melakukan pendekatan terhadap lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan budaya. Ia melakukan pengamatan dan analitis terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat sekitarnya (masyarakat sunda), kedudukan dan peranan wanita didalam masyarakat itu, pandangan masyarakat terhadap pendidikan kaum wanita, serta arah perkembangan pendidikan dan kemajuan kaum wanitanya.

Pada masa itu sedang terjadi proses perubahan yang bisa membawa perbaikan dan kemajuan kepada kehidupan wanita, jika mereka mengikuti arus perubahan itu. Perubahan merupakan dampak positif dari dibukanya sekolah-sekolah model barat bagi masyarakat pribumi sejak pertengahan abad ke-19.

Tujuan Dewi Sartika memajukan kaum wanita melalui pendidikan ialah hendak membentuk wanita utama (kautamaan isteri) di kalangan seluruh lapisan masyarakat bumiputera.

Wanita utama adalah wanita yang mengetahui kebutuhannya sendiri, hak dan kewajibannya didalam lingkungan masyarakat, dan dalam keadaan tertentu mampu berdiri sendiri. Keutamaan wanita itu bisa bermacam-macam, tergantung pada klasifikasi social, adat istiadat, pendidikan dan pergaulan.

 

Bab IV

KEBUDAYAAN DAN SASTERA SUNDA

Pemberian hadiah sastera “rancage” memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti perkembangan kesenian dan sastera yang berkembang di Indonesia. Perlu diketahui bahwa karya sastera bahasa daerah yang dinilai dalam “rancage” adalah karya dalam bentuk buku, hal ini untuk menyempitkan ruang bagi penulis karena banyaknya majalah ataupun artikel berbahasa daerah, kalau harus menilai semua terus terang kami tak mampu. Sepanjang pengamatan  kami karya sastera modern yang berkembang hanya dalam bahasa jawa, sunda maupun bali saja yang diterbitkan oleh penerbit buku di Indonesia. Yang dimaksud modern disini adalah penulis karya sastera daerah yang hidup pada era sekarang yang sudah terpengaruh barat, meskipun karya-karyanya berupa tulisan tradisional tapi bau klasik dari karya mereka tidakbener-benar murni tradisional seperti buatan era sebelum kemerdekaan ataupun setelahnya.

Beberapa kenyataan menarik

Ternyata para sasterawan daerah yang menulis karyanya tidak semua dari generasi tua, memang ada generasi dari era 20an bahkan lebih tua, tetapi setiap era pasti mempunyai sastrawan daerah yang mencintai dan berminat pada sastera darahnya seperti di era 60an, 70an bahkan era 80an. Pada generasi tua mereka masih belajar bahasa daerah sebagai pengantar belajar mereka mungkin pada sekolah rakyat yang didirikan oleh Belanda, banyak juga buku-buku berbahasa daerah karena pada masanya rakyat lebih tertarik pada bahasa daerah dari pada bahasa inggris maupun bahasa asing lainnya bahkan bahasa Indonesia sendiri. Pada era 40an bahasa daerah hanya bekisar pada tutur para penutur dari daerah asalnya karena banyak buku berbahasa daerah yang hancur dimakan waktu, balai pustaka sebagai penerbit buku indukan di Indonesia sudah jarang sekali menerbitkan buku berbahasa daerah. Dengan demikian generasi ini tidak banyak bertemu dengan karya-karya kedaerahan karena keterbatasan media. Era 60an lebih repot lagi, tuntutan kurikulum 75 membuat semua bahasa pengantar sekolah tingkat di Indonesia menjadi bahasa Indonesia yang berperan sebagai bahasa nasional dan menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran.

Penerbitan bahasa daerah

Penerbitan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penerbitan surat kabar dan buku. Masa sekarang tidak ada selembarpun surat kabar yang berbahasa daerah, pada masa penjajahan terdapat beberapa surat kabar berbahasa daerah yang beredar di jawa dan sunda seperti bromortani dan siliwangi. Pada era 60an sampai 80an ada yang mencoba menerbitkan surat kabar berbahasa daerah namun hidupnya merana. Yang masih ada adalah penerbitan majalah dan tabloid berbahasa daerah seperti panjebar semangat, joyoboyo dan djoko lodang sebagai tabloid.
Umumnya penerbitan surat kabar di Indonesia hanya berdasarkan kecintaan terhadap bahasa dan rasa ingin membudidayakan sastera daerah namun tidak dengan tenaga penerbitan yang profesional mengakibatkan penerbitan-penerbitan itu banyak yang gulung tikar.

Pada penerbitan buku pun tidak jauh berbeda, umumnya penerbit buku daerah adalah orang yang mencintai bahasa daerah dan hasilnya pada kebangkrutan, sementara penerbit komersil lebih memilih mengeluarkan buku teks ataupun lembar kerja siswa yang biasanya dibutuhkan pada pembelajaran disekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Inilah yang harusnya menjadi perhatian pemerintah bila ingin terus mempertahankan sastera daerah maupun kebudayaan, bagaimana cara mengembangkan minat kedaerahan di Indonesia ini, pekerjaan rumah bagi para pejabat pemerintahan pusat maupun daerah dan para petutur bahasa yang masih bertahan.

Radio dan Televisi

Media yang potensial yang dapat mengembangkan bahasa dan sastera daerah yaitu radio dan televisi. Sampai sekarang di radio masih terdapat siaran yang memakai bahasa daerah sebagai pengantar ataupun iklan-iklan yang memakai bahasa daerah, namun sejauh ini belum ada radio yang secara full menggunakan bahasa daerah kecuali bahasa jawa. Dalam siaran televisi TVRI sebagai andalan indonesia waktu itu tidak dapat menayangkan acara-acara berbahasa daerah karena terbeluenggu motonya yaitu berbahasa indonesia yang baik dan benar, kalu pun ada acara pentas kesenian daerah, hal tersebut disajikan dengan pengantar bahasa indonesia dan hal itu menjadi kurang menarik. Adapun televisi swasta yang sejauh ini belum ada acara khusus berbahasa daerah kecuali pentas wayang kulit yang berbahasa pengantar bahasa jawa. Mungkin tv swasta pun berpegang pada peraturan pemerintah mengenai bahasa, namun pemerintah kita belum sadar dari tidurnya.

Hari depan bahasa dan sastera daerah

Sekarang pemerintah terkesan menyerahkan hidup matinya bahasa daerah kepada penuturnya saja, padahal UUD memberikan perlindungan khusus terhadap bahasa daerah dan sasteranya. Para pecinta bahasa daerah tidak bisa terus berpangku tangan pada pemerintahan yang terkesan pasrah terhadap ini, pemerintah hanya menilai kebudayaan daerah sebagai aset pariwisata yang menghasilkan banyak uang, namun tidak dengan pemeliharaannya, seperti yang tercermin sekarang ini. Penerbit buku pun tidak banyak yang minat pada penerbitan buku berbahasa daerah, bila dilihat orang-orang sunda maupun jawa sangat banyak bila mereka menerbitkan buku ke masing masing daerah dan buku mereka hanya dibaca 10% saja mereka sudah mendapat laba yang sangat besar, namun sejauh ini mereka tidak melihat hal itu, yang mereka lihat hanya selera pasar. Hal lain yaitu minat orang Indonesia terhadap membaca, Indonesia termasuk negara terendah dalam minat baca, tentu ini sebagai tugas kita semua sebagai lapisan masyarakat yang ikut andil di dalamnya juga pemerintahan daerah yang perlu meyemarakan serta peran pemerintah pusat seharusnya mendukung penuh dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mumpuni. Bila ingin generasi muda kita cinta akan bahasa dan sastera kedaerahannya bahasa daerah disajikan bukan hanya dibuku melainkan juga pada surat kabar, acara radio maupun televisi secara intensif dan ditayangkan secara terus menerus, niscaya ada apresiasi dan minat dari generasi muda Indonesia untuk mempertahankan kebudayaan daerahnya.

 

 

BAB VI

A.        SILSILAH PRABU WIJAYA

Inilah silsilah keturunan prabu siliwangi. (prabu siliwangi) berputra mundingsari Ageung, (mundingsari Ageung) berputra mundingsari Leutik, (mundingsari Leutik ) berputra Raden panglurah, (raden Panglurah) berputra pucuk umun, (Pucuk umun) berputra Sareupeun negara.

Sareupeun negara berputra sunan parung, (sunan parung) berputra sunan talaga manggung, (sunan talaga manggung) berputra sunan dampal, (sunan dampal) berputra sunan genteng, (sunan genteng) berputra sunan wanaperih, (sunan wana perih) berputra sunan ciptarengga, (sunan cipta rengga) berputra santoga astra, (santoga astra) berputra Eyang wargasita, (eyang wargasita) bersaudara dengan ki entol nayawangsa.

          B.          MANTRA AJI CAKRA

Ini Panyukat Aji Cakra
Ku Si Naga Nagini

Sang Manon Sang Matongton

Cupu bahuk udang lulus

Ila-ila ku Sang hyang Waruga Bumi

Ila-ila ku Sang Hyang Waruga Lemah

Satitis Waruga Bumi

Satitis Waruga Lemah

Sang awaking na tutunggul

Megar catang megatkeun apus
Kayu pupug kayu sepug

Kayu ku si balebatan

Kayu ku si Kahuripan

Hurip bayu

 

Kumeleper buyut agul

Nu neureuy bwana ini

Saha nu kolot sorangan

Basa keur cang keur bungbang

Basa keur lemah.
Langit ngarus Sri Lenggang

Sri maya lenggang

Ngaran lemah caki

Sri Man Sri Wacana

Sri Baduga Maharaja

Sang Ratu Hyang Banaspati
Nu nyahleur di Rancamaya

Ditutug Watubeusi.

Hong hakasa dewakata

Turun bayu ngawisesa awaking

Turun murba ka bwana panca tengah
Ya piyangpi geni, Ya husipat bwana,

Ya hucaya ning bwana, Ya husipat langgeng,

Nu ngawisesa di bwana, Sang ratu Libung Gumur

Nu temetes saking Meukah,

Nu mungguh saking kidul

Dat muliya sapurna hidattulah
Sang Ratu Kilat Barahma,

Nu temetes saking Meukah

Nu mungguh saking kaler

Twa Darma Makilat

Tumurun saking Meukah,

Nu mungguh saking wetan.

Twa jempi larang,

Tumurun saking Meukah.
E Sang Bapa Putih

Sang Baga lumenggang

Rat muta rat mutayu,

Rat saking urip.

 

C.        MANTRA DARMA PULIH HYANG NISKALA

Ini darma pamulih hyang niskala

Ku aci darma pamulih

Ku aci nusya sakti

Ngageugeuh nusya sakti

Ngageugeuh nusya larang

Aci putih herang jati

Di jero ning jembawasa salira

Salawasna dimanikan

Mangka datang ka bulanna

Mukakeun kowari manik

 

Sawetuna ti tan hana

Salawasna nyarita di bwana

Mangkana nepi ka mangkana

Dongkap ka mangsa

Pulang deui ka tunnana

 

Bayu tan metu

Sabda tan muwah

Hedap tan ngaruan

Kurungan tan keneng tumuwuh

 

Aci raga purna jati

Purna-purna palipurna

Tap digalah dikukuhan

Dipagahan ku aci darma pamulih

Sang de dewata kaliwara

Ku berata naga palipurna

Tukuh ku sang hyang caya bayak beulah

Sang hyang caya bayak beulah

Sang hyang cupumanik kilat kancana

Bayarayamram caang beurang

Seda kalang seda sakti mahabara

Ja aing wenang larang leuwih sorangan

 

Sabda pamulih kajatianana

Darma si gendi nitis tipuncak

Dewata naga nanggeuy na lemah

Sarereana aci bayu

Katema ku nyawa-nyawa

Katema ngereh genter

Tuluy ngambangan hurip

Hedap katineung

Tuluy ka sunyia lawan taya

Tuluy ka sang hyang suka denge

Katema ku betara indra

Tuluy ka panon gelang bwana

Tas ma telas mulih ka jatianana

 

I pangarumanana bayak beulah

Mayukpuk putih herang ngalenggang

Bayu ning kadi paya ning di teubeuh ku aer mawar

Arum-arum akub-akub

Metu aci pangarumanana

Awaking kastori jati ( kastori jati)

Awaking ku cimanik larang dewata

Kurungan manik teja putih

Ngaran panglebur bajra

Ku cimanik larang dewata

Kurungan manik teja putih

Ngaran panglebur raga awaking

Teka lebur jadi cai

Tas ma telas mulih ka jatianana

 

Raga katema ku hyang bayu pretiwi

Katema ku pwa basuki

Katema ku syi awak larang

Katema ku sang hyang gresik putih

Los ka sawarega ri kahyangan

Buni pangruwatanana

Ruwat ku sang darmajati

I panglembur ku sang hyang guru tasmat (satmat)

 

Punika kula sasadu

Kang nganulis ping ti kanggang

Sang amaca pun

assadu maring hyang widi

mangra betara sakabeh

 

D.        AJARAN ISLAM

Bismilah hirahman hirahmin

Assahhadu anla ilahlalah

Wassa adu ana mukadaman rasululah

 

Sun angawruhi satuhune

Ora nu kasine mbah ing

Hanane kang tetep kang langgeng

Kang suci kang luwih suci

Kang murba ing diri

Ning wujud helmu anu suhud

Lah iya maher luhung

Lah iya hora kawula dadi gusti

Lah iya maher luhung

 

Punika tedak saking agama suci

Saking kangjeng pangeran sumanagara

 

Asahhadu sahe karbanyar

Suci alahheka rasululah

Banyu suci metu saking

Ti mulah karsa allahhu

Hing dina dina saptu

 

Usali parilan anglalahor ri

Areba urakatin adaan imaman

Lilah ita alah allah huhabar

 

Usali parilan anglalahor ri

Areba urakatin adaan (imaman)

Lilahhi taalah, Alah hu akbar

 

Usali parelan magribi

Sarasa rakatin adaan ( imaman)

Lilahhi taalah, alahuu akbar

 

Usali parelan isa’i

Areba ngurakaatin adaan imaman

Lilahi ta alah, Alah huhabar

 

Usali parewas subuh’i

Rakataheni adaan imaman

Lilahhi taalah Alahu akbar

 

Kabira walkamdu lilahhi kasirran

Pasubahanalah hibukratan wahasila

 

Subahana rabiyal halin awabikamdihi

Subahana rabiyal alim wabihamdihi

Ruku

Samiyalah uliman

Uroba lakal hamdu

 

Subahana rabiyal lala wabikam

Sujud; tangi sujud

Wabi parreli wara amni

Warah jukni wadini wah apwani

Atasiyat tulilahhi

Salaman alaeka ahannabiyu

Waramaktulahhi wahbarrekattuh

Asalamun alaekatuh

Annabiyu warshmsttulahiwabarakattu

Usalimun alaena paalla ibadillah him saliim

 

Hasada hanlahhilah hahilalah

Waassaduana muhamandan rasululah

Alah umasali alah muhamaddin

Walali muhamad

Samialah huliman kamida

Hurabana lakal kamdu

Rabu samawati wal harli

 

Nini serepet kaki serepet

Sing kidang majangngan nerepet

Ta sing batu kayu watu

Pupu repug rerep sirep

Sirep diingu ku puti

Lebur ajur dadi banyu

Lebur diksa jata putih

Sang ratu maring alah

Masup metu maring guha

Bubar

 

Sebenarnya silsilah keturunan prabu siliwangi masih banyak, tetapi kelompok kami menuliskan yang terpenting saja, dari itu diharapkan kita semua lebih mendalami silsilah prabu siliwangi lagi dalam lain kesempatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ANALISIS

1. Kritik Ekstern

2. Kritik Intern

3. Kelemahan Buku

           Dalam buku yang berjudul Bupati Di Priangan ini menurut kelompok kami ada   kelemahan yang sangat menonjol, yaitu dalam bahasa yang digunakan penulis memang bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia tetapi masih terdapat bahasa sunda, bahasa belanda, dan bahasa inggris. Keanekaragaman bahasa dalam buku ini memang memberikan warna yang berbeda dengan penulisan buku yang lain tetapi karena pembaca buku ini bukan orang sunda saja sehingga mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami isi buku ini, begitu pun dengan bahasa belanda dan bahasa inggris yang kurang dimengerti pembaca, sehingga pembaca memerlukan waktu yang cukup lama untuk  menerjemahkan terlebih dahulu buku tersebut sebelum memahaminya.

 

4.  Keunggulan Buku

                Keunggulan buku ini yaitu bukunya tidak terlalu tebal serta pembahasannya yang menarik tentang kebudayaan Sunda. Buku ini  juga merupakan hasil penelitian dan pandagan orisinil mengenai aspek kebudayaan sunda. Sehingga menambah pengetahuan kita tentang kebudayaan sunda dan dapat dipertanggung jawabkan kredibilitasnya. Sehingga buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi atau sumber bagi kita dalam memahami kebudayaan sunda.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s